Wednesday, December 4, 2013

1.    Kemunculan Safawiyah
Asal mula kerajaan Syafawiyah bisa di katakan berbeda dengan antara lainnya. Hal ini di sebabkan kerajaan Syafawiyah bermula dari sebuah gerakan kaum sufi atau tasawuf yang di pimpin oleh Syekh Ishak Safruddin (1252-1334M) yang pada abad ke-15 berubah menjadi gerakan revolusioner politik. Syekh Ishak Safruddin adalah seorang guru sufi di Ardabil yaitu sebuah kota di Azerbaijan Persia Barat laut, yang merupakan keturunan dari Musa al-Khadim. Keberadaan tarekat ini sudah ada semenjak kerajaan keturunan Timurlank masih berkuasa. Berkat kealiman dan kezahidannya Ishak Syafruddin banyak di hormati orang, sehingga tidak aneh ketika dia juga termasuk anggota Majelis Wazir Besar Rosyiduddin, yaitu majelis yang di bentuk oleh kerajaan Mughol.
Pada perkembangan selanjutnya para pengikut tarekat ini tidak bisa membendung “syahwat” politiknya. Hal ini nampak ketika kepemimpinan Safruddin di ganti putranya yang bernama Junaid mendapatkan tanggapan pro dankontra. Diantara tokoh yang kontra terhadap sepak terjang Junaid adalah Kara Kuyunlu. Konflik antara keduanya mengakibatkan Junaid harus menerima poluce dari Kara Kuyunlu untuk mengasingkan dia di suatu tempat. Di tempat pengasingan itu dia menghimpun kekuatan dengan cara menyebarkan ajaran tarekatnya dan membentuk kekuatan baru dengan cara berkoalisidengan Uzun Hasan. Hubungan Junaid dengan Uzun Hasan di harapkan bisa meraih supremasi politik, dengan cara melakukan perlawanan dengan Ardabil dan Sircassia, tetapi kenyatannya usaha tersebut justru menyebabkan terbunuhnya Junaid (1460) dalam pertempuran melawan tentara yang di pimpin oleh Sirwah.
Setalah 10tahun setelah Junaid meninggal kepemimpinannya digantikan oleh anaknya yang bernama Haidar pada tahun 1470. Hubungan antara penguasaa Syafawiyah dengan Uzun Hasan semakin erat setalah Haidar mengawini putrinya Uzun Hasan, dan di karuniani 3 anak laki-laki[1].
Nama Haidar semakin berkibar setelah berhasil mengalahkan kekuatan AK Koyunlu dalam pertempuran yang


[1]H.maman A.malik-sy, Gusnam haris, Rofik. Sejarah kebudayaan islam. Hal 158

No comments:

Post a Comment